Minggu, 09 Oktober 2011

Pembelahan Sel


Pembelahan Sel (Mitosis dan Miosies) Sebagai Tahapan Penurunan Sifat


1.      Pendahuluan
Belasan tahun setelah Mendel mempublikasikan karya penelitiannya, W. Roux mengajukan postulat bahwa faktor herediter dibawa oleh suatu struktur di dalam nukleus yang dinamakan kromosom (chromo=warna ; soma=badan). Percobaan T. Boveri dan W.S. Sutton beberapa tahun kemudian membuktikan bahwa gen terdapat di dalam kromosom. Selanjutnya, T.H. Morgan dan koleganya melalui studi pada lalat buah Drosophila melanogaster mengajukan teori bahwa gen merupakan satuan-satuan yang diskrit (terpisah satu sama lain) di dalam kromosom.
Perilaku kromosom ternyata sangat berkaitan dengan tahap-tahap pembelahan sel,yang merupakan mekanisme dasar bagi pertumbuhan dan reproduksi seksual organisme. Pembelahan sel (sitokinesis) selalu didahului oleh pembelahan nukleus (kariokinesis), dan justru kariokinesislah yang sesungguhnya lebih berperan dalam mekanisme pelaksanaan pewarisan sifat. Bahkan, pembicaraan tentang pembelahan sel pada umumnya dititikberatkan pada kariokinesis, yang dengan sendirinya akan melibatkan perubahan-perubahan yang terjadi pada kromosom.
Bahan penyusun kromosom adalah DNA dan protein. Kromosom yang sedang mengalami pengandaan terdiri atas dua buah kromatid kembar (sister chromatids) yang satu sama lain dihubungkan pada daerah sentromer. Letak sentromer berbeda-beda, dan perbedaan letak ini dapat digunakan sebagai dasar untuk klasifikasi struktur kromosom. Pada sentromer terdapat kinetokor, yaitu suatu protein struktural yang berperan dalam pergerakan kromosom selama berlangsungnya pembelahan sel.

Sel dibagi menjadi 2 kelas utama, yaitu eukariot dan prokariot. Perbedaan utama diantara keduanya terletak pada ada atau tidaknya membran inti yang membatasi inti sel dan sitoplasma. Organisme prokariot tidak memiliki membran inti dan eukariot memiliki membran inti. Semua sel hewan dan tumbuhan adalah eukariot dan bakteri, cyanobacteria dan mycoplasma adalah prokariot (Stafferton J. 2007: 203).
Organisme prokariot tidak mengalami pembelahan sel berupa mitosis atupun meiosis, ia hanya mengalami pembelahan  sel berupa amitosis, salah satu contohnya adalah pembelahan biner. Organisme eukariot mengalami pembelahan sel secara mitosis pada sel somatisnya dan meiosis pada sel gametnya (Joseph S.W. & Rollins D.M. 2000:6).
Organisme eukariot membutuhkan kemampuan untuk dapat tumbuh, dan proses ini dapat terjadi melalui  pembelahan sel dan pertumbuhan sel. Pertumbuhan terkadang merupakan hasil dari satu atau komponen lain saja, tetapi sering terjadi juga bahwa pertumbuhan sel dan perkembangan sel tergabung dalam satu proses yang dinamakan siklus sel (Koning, R.E. 1994:2).
Mitosis dan meiosis merupakan bagian dari siklus sel dan hanya mencakup 5-10% dari siklus sel. Persentase waktu yang besar dalam siklus sel terjadi pada interfase. Interfase terdiri dari periode G1, S, dan G2. Pada periode G1 selain terjadi pembentukan senyawa-senyawa untuk replikasi DNA, juga terjadi replikasi organel sitoplasma sehingga sel tumbuh membesar, dan kemudian sel memasuki periode S yaitu fase terjadinya proses replikasi DNA. Setelah DNA bereplikasi, sel tumbuh (G2) mempersiapkan segala keperluan untuk pemisahan kromosom, dan selanjutnya diikuti oleh proses pembelahan inti (M) serta pembelahan sitoplasma (C). Selanjutnya sel hasil pembelahan memasuki pertumbuhan sel baru (G1).
2.      Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang ditemukan adalah sebagai berikut:
1.      Pengertian pembelahan mitosis dan miosies
2.      Proses pembelahan mitosis dan miosis
3.      Perbedaan pembelahan mitosis dan miosies
4.      Tahapan penurunan sifat pada pembelahan meiosis dan mitosis

3.    Pembahasan
A.     Pengertian
Menurut sifat dan letak terjadinya pembelahan dibagi atas 2 macam yaitu:
1.      Mitosis
2.      Meiosis
Mitosis dari kata mitos, artinya benang. Yakni terbentuknya benang-benang kromosom dalam inti. Pembelahan seperti ini terjadi pada seluruh jenis jaringan tubuh, baik jaringan somatif (vegetatif) maupun jaringan germinatif (generatif). Karyotype yang 2N (diploid) pada sel induk akan tetap 2N pada sel anak.
Meiosis, dari kata meion, artinya lebih kecil. Disebut juga pembelahan reduksi. Terjadi hanya pada jaringan germinatif, yakni sel induk benih. Meiosis didahului oleh mitosis, untuk melipatgandakan (proliferasi) jumlah sel induk benih lebih dulu. Karyotype sel induk yang 2N, pada sel anak yang disebut gamet, akan direduksi menjadi 1N (haploid). Berarti kromosom sel induk direduksi jadi separuh pada sel anak (Wildan Yatim. 1994:20).
Pada profase yang terjadi di mitosis, membran nukleus menghilang, kromosom terlihat dan setiap sentriol di sentrosom bergerak menuju kutub berlawanan dan menjadi aster. Setiap aster terdiri dari sentriol dan mikrotubulus. Pada profase akhir beberapa mikrotubulus membentuk benang-benang spindel. Sepanjang profase, kromosom mengalami penebalan dan pemendekan,  kromosom mengalami penggandaan  yang terdiri dari kromatid dan sister kromatid. Penggandaan tersebut merupakan hasil replikasi DNA pada interfase lihat gambar (Koning, R. E. 1994:5; Benson H. J. dkk. 1996:28).
Setelah mengalami penebalan, kromosom akan tersusun di bidang ekuator dan terikat pada mikrotubulus yang terletak di kedua kutub, saat ini disebut dengan metafase. Salah satu kromatid dari setiap kromosom terpisah dari pasangannya dan bergerak menuju kutub yang berlawanan,  hal ini terjadi pada anafase (Benson H. J. dkk. 1996:28). Selanjutnya sel akan mengalami telofase yang ditandai oleh adanya kromosom yang telah berada di kutubnya masing-masing, kemudian kromosom tersebut mulai terurai menjadi kromatin. Kariokinesis atau pembelahan inti akan terjadi setelah plasma membran mulai terbentuk. Setelah mengalami kariokinesis, sel tersebut akan mengalami sitokinesis yang ditandai dengan pembentukan cleavage furrow pada hewan (gambar 3) dan cell plate pada tumbuhan.
Tujuan dari pembelahan mitosis adalah regenerasi dan perbaikan sel-sel tubuh yang rusak, karena mitosis menghasilkan sel anak yang identik (Benson H. J. dkk. 1996:28).
Sedangkan Mitosis merupakan periode pembelahan sel yang berlangsung pada jaringan titik tumbuh (meristem), seperti pada ujung akar atau pucuk tanaman. Proses mitosis terjadi dalam empat fase, yaitu profase, metafase, anafase, dan telofase. Fase mitosis tersebut terjadi pada sel tumbuhan maupun hewan. Meiosis adalah tipe khusus dari pembelahan nukleus yang melakukan pemisahan tiap kromosom homolog menjadi gamet yang baru. Jika mitosis menghasilkan sel anak yang identik dengan induk, maka meiosis menghasilkan sel anak dengan reduksi jumlah kromosom. Selain itu, meiosis menghasilkan sel anak yang berbeda dengan induknya. (Farabee M.J 2000:1). Terjadi dua jenis pembelahan pada meiosis, yaitu pembelahan reduksi (meiosis 1) dan pembelahan sel (meiosis 2). meiosis 2 melakukan pembelahan sel layaknya mitosis

B.     Proses Pembelahan Mitosis dan Meiosis
b.1 Proses Pembelahan Mitosis
Mitosis pertama kali dijelaskan oleh W. Flemming pada sel hewan. Mitosis masih dapat dibagi-bagi lagi menjadi beberapa tahap, yaitu profase, metafase, anafase, dan telofase. Biasanya, profase dan telofase berlangsung lama, sedangkan metafase dan anafase berlangsung singkat. Tiap tahap mitosis ini dicirikan oleh perilaku kromosom yang berbeda-beda. Indikasi awal dimulainya mitosis, khususnya pada sel-sel hewan, dapat dilihat di dalam sitoplasma ketika interfase hampir berakhir. Suatu daerah di sitoplasma yang dinamakan sentrosom, yang terdiri atas sepasang sentriol, mengalami pembelahan menjadi dua; mikrotubul, yang terdapat di dalamnya, menonjol keluar  membentuk struktur aster, tempat asal mula munculnya benang spindel. Pada sel tumbuhan tidak terdapat sentriol, tetapi ada pusat pengendali spindel yang disebut MTOCs (microtubule organizing centers). Namun, struktur MTOCs tidak sejelas sentriol pada sel hewan.

Profase awal
Pada tahap ini masing-masing anggota pasangan sentriol bergerak memisah. Kromatid kembar yang semula tipis dan tidak berpilin mulai nampak berpilin, memendek, dan dapat dilihat lebih jelas. Jumlah pilinan akan menurun sejalan dengan meningkatnya diameter masing-masing pilinan. Nukleolus dan dinding nukleus mulai menghilang.

Profase akhir
Kedua kromatid kembar pada masing-masing kromosom saling melekat pada daerah sentromir. Kompleks kinetokor dan sentromir segera berfungsi sebagai tempat melekatnya mikrotubul / benang spindel yang keluar dari sentriol. Oleh karena masing masing sentriol telah bergerak ke kutub sel yang berlawanan, maka benang spindle menjadi penghubung kedua kutub sel tersebut melalui sentromer. Pada profase akhir ini nukleolus dan dinding nukleus telah benar-benar hilang.

Metafase
Kromosom nampak sangat kompak sebagai dua kromatid kembar. Tahap metaphase merupakan tahap mitosis dengan kenampakan kromosom paling jelas karena kromosom terlihat menebal, memendek, dan menempati bidang tengah sel. Pengamatan dan analisis kromosom paling mudah dilakukan pada tahap ini.

Anafase
Pemendekan benang spindel menyebabkan kromatid kembar pada masing-masing kromosom bergerak ke arah kutub sel yang berlawanan. Tiap kromatid sekarang mempunyai sentromer sendiri dan menjadi sebuah kromosom baru, yang mulai memanjang kembali.

Telofase
Benang spindel mulai menghilang; sebaliknya, nukleolus dan dinding nukleus mulai muncul kembali. Terjadi penyempitan pada sitoplasma dan pembelahan organel-organel sitoplasmik, yang mengarah kepada pembentukan dua sel hasil mitosis dengan kandungan materi genetik yang identik. Pada sel tumbuhan terjadi partisi di antara kedua calon sel hasil mitosis. Setelah lamela tengah terbentuk, dinding selulosa segera disintesis pada masing-masing sisi.
Adapun gambar pembelahan mitosis sebagai berikut:

b.2Tahap-tahap meiosis

Meiosis dapat dibagi menjadi dua pembelahan nukleus (kariokinesis), yaitu meiosis I dan meiosis II. Pada meiosis I terjadi pengurangan jumlah kromosom menjadi setengah dari semula sehingga  pembelahan ini sering juga disebut pembelahan reduksi. Jika sel yang mengalami meiosis adalah sebuah sel diploid, maka pada akhir meiosis II akan didapatkan empat buah sel yang masing-masing haploid. Hal ini karena kromosom hanya mengalami satu kali penggandaan, tetapi kariokinesisnya terjadi dua kali.
Oleh karena meiosis dapat dibagi menjadi meiosis I dan meiosis II, maka tahap tahapnya terdiri atas profase I, metafase I, anafase I, telofase I, profase II, metafase II, anafase II, dan telofase II. Tahap-tahap meiosis II (profase II hingga telofase II) sebenarnya menyerupai tahap-tahap pada mitosis.

Profase I
Di antara tahap-tahap meiosis, profase I membutuhkan waktu paling panjang sehingga dapat dibagi lagi menjadi beberapa tahap, yaitu leptonema, zigonema, pakinema, diplonema, dan diakinesis. Leptonema (leptoten)
Seperti halnya pada profase awal mitosis, pada tahap meiosis yang paling awal ini tiap kromosom telah mengalami penggandaan menjadi kromatid kembar. Namun, kenampakan kromosom jika dilihat menggunakan mikroskop cahaya masih seperti benang tunggal yang tipis memanjang. Di sepanjang kromosom dijumpai sejumlah kromomir, berupa butiran-butiran padat dengan interval yang tidak beraturan.
Zigonema (zigoten)
Tiap kromosom homolog (kromosom paternal dan maternal) berpasang-pasangan membentuk struktur bivalen. Proses berpasangannya sendiri dinamakan sinapsis. Oleh karena tiap kromosom telah mengalami penggandaan menjadi dua kromatid kembar, maka pada tiap bivalen terdapat empat kromatid kembar. Kompleks empat kromatid ini disebut tetrad.
Pakinema (pakiten)
Pada pakinema kromosom untuk pertama kalinya dapat dilihat sebagai struktur yang telah mengalami penggandaan (bivalen atau tetrad). Peristiwa penting lainnya pada tahap ini adalah terjadinya pindah silang (crossing over), yaitu pertukaran materi genetic antara kromatid paternal dan kromatid maternal pasangannya.

Diplonema (diploten)
Secara visual tempat terjadinya pindah silang dapat dilihat sebagai struktur yang dinamakan kiasma (jamak = kiasmata). Kecuali pada daerah-daerah kiasma ini, pasangan-pasangan kromatid Nampak mulai saling memisah.

Diakinesis
Kiasma bergeser ke ujung kromosom sehingga tempat ini sekarang tidak harus merupakan tempat terjadinya pindah silang. Tiap kromatid anggota tetrad makin memendek, menebal, dan bergerak ke arah bidang tengah sel. Nukleolus dan dinding nukleus menghilang. Mikrotubul / benang spindel yang keluar dari sentriol nampak kian memanjang dan akhirnya melekat pada kinetokor.

Metafase I
Struktur tetrad nampak makin jelas di bidang tengah sel. Di sinilah konfigurasi kromosom meiosis paling mudah dibedakan dengan kromosom metafase mitosis. Pada metafase mitosis tidak dijumnpai adanya struktur tetrad, tetapi hanya ada biad yang terdiri atas dua kromatid kembar.

Anafase I
Anggota tiap pasangan kromosom homolog (yang masing-masing terdiri atas dua kromatid kembar) bergerak ke arah kutub sel yang berlawanan. Dalam hal ini sentromir belum membelah sehingga kedua kromatid kembar masih terikat satu sama lain.
Telofase I
Anggota tiap pasangan kromosom homolog telah mencapai kutub sel yang berlawanan. Dinding nukleus mulai terbentuk kembali. Kadang-kadang telofase I diikuti oleh sitokinesis dan interfase singkat (tanpa penggandaan kromosom), tetapi seringkali langsung diteruskan ke meiosis II.

Meiosis II
Di atas telah dikatakan bahwa tahap-tahap meiosis II, mulai dari profase II hingga telofase II, menyerupai tahap-tahap pada mitosis. Namun, pada meiosis II hanya ada satu dari masing-masing pasangan kromosom homolog di dalam setiap nukleus. Jadi, di dalam tiap nukleus hanya ada kromosom paternal saja atau kromosom maternal saja untuk tiap nomor kromosom. Sebagai contoh, di dalam satu nukleus mungkin terdapat kromosom paternal untuk kromosom nomor 1, kromosom maternal untuk kromosom nomor 2, kromosom maternal untuk kromosom nomor 3, dan seterusnya. Nukleus lainnya akan membawa kombinasi kromosom yang lain pula. Telofase II akan diikuti oleh sitokinesis yang menghasilkan empat sel haploid. Di dalam nukleus masing-masing sel ini terdapat satu anggota untuk setiap pasangan kromosom homolog. Jadi, kalau pada telofase I (dan sebelumnya, anafase I) terjadi pemisahan kromosom homolog, pada telofase II (dan anafase II) terjadi pemisahan kromatid.

C.     Perbedaan Pembelahan Mitosis dengan miosies
Perbedaan pokok antara mitosis dan meiosis Mitosis Meiosis
No
Perbedaan
Mitosis
Meiosis
1
Interfase
Lama
Sebentar
2
Profase
Sebentar : tak ada sub-fase, hanya sekali
Agak lama; dibagi atas sub-fase pada meiosis I; 2x; profase II kromatid tak mengganda lagi
3
Terbentuknya kromosom
Awal profase
Pertengahan profase: pakiten.
4
Kromosom homolog
Tak bergandeng
Bergandeng pada zigoten sampai anafase meiosis I
5
Tetrad, synapsis, crossing-over
Tak terbentuk
Terbentuk pada pakiten dan diploten
6
Metafase, sentromer
Membagi dua sehingga kromatid terpisah
Metafase I: belum membagi 2.
7
Anafase, kromatid
Pindah ke kutub berseberangan
Anafase I: kromosom homolog pindah ke kutub berseberangan; anafase II: kromatid pindah ke kutub berseberangan
8
Telofase
Terbentuk 2 sel anak masing-masing 2n
Telofase I: terbentuk 2 sel anak masing-masing 1n.

Interkinesis
Tidak ada
Ada antara meiosis I dan meiosis II
10
Terjadi pada jaringan
Somatif dan germinatif
Hanya pada germinatif

d. Tahapan penurunan sifat pada pembelahan mitosis dan meiosis
            Sebenarnya proses penurunan sifat sudah terjadi mulai dari fase awal baik pada pembelahan mitosis maupun pada pembelahan miosies. Hal ini ditandai dengan pembelahan kromosom homolog yang membawa sifat genetis sel induk. Tahapan yang paling menetukan adalah pada saat terjadi Profase I pada proses meiosis, hal ini dimungkinkan karena pada prose situ terjadi peristiwa pindah silang dan membutuhkan waktu yang relative lama.
            Pada hewan, berakhirnya meiosis tidak serta-merta dapat dikatakan bahwa gamet telah terbentuk. Meiosis hanya menghasilkan empat buah sel yang masing-masing haploid. Sel-sel ini masih memerlukan proses pematangan untuk dapat berkembang menjadi gamet. Pembelahan meiosis yang diikuti oleh pematangan sel-sel haploid menjadi gamet fungsional dinamakan gametogenesis.
Pada hewan yang berkembang biak secara seksual dapat dibedakan antara gametogenesis pada individu jantan dan gametogenesis pada individu betina. Gamet pada individu jantan disebut spermatozoon (jamak = spermatozoa) sehingga proses pembentukannya dinamakan spermatogenesis. Demikian pula, karena gamet betina disebut ovum (jamak = ova), maka gametogenesis pada jenis kelamin ini dinamakan oogenesis.
Spermatogenesis
Spermatogenesis dimulai pada saat individu yang bersangkutan mencapai matang kelamin (pubertas). Prosesnya berlangsung di dalam testes, tepatnya di dalam suatu tabung melengkung yang disebut tubulus seminiferus. Di sekeliling tabung ini terdapat spermatogonium (jamak = spermatogonia), yaitu sel-sel somatis khusus yang nantinya akan mengalami meiosis untuk menghasilkan spermatozoa.
Pada awalnya spermatogonium (diploid) memperbanyak diri melalui pembelahan mitosis berkali-kali. Pada waktu tertentu mitosis akan terhenti; spermatogonium membesar dan berdiferensiasi menjadi spermatosit primer, yang masih diploid juga. Spermatosit primer kemudian mengalami meiosis I untuk menghasilkan spermatosit sekunder, yang dilanjutkan dengan meiosis II untuk menghasilkan empat buah spermatid yang masing-masing haploid. Akhirnya, spermatid berdiferensiasi menjadi spermatozoon yang matang.

Oogenesis
Bila dibandingkan dengan spermatogenesis, oogenesis relatif agak lebih rumit. Proses ini dimulai sejak awal tahap perkembangan embrio ketika sekelompok sel yang disebut galur sel germinal (germ cell line) memasuki ovarium yang sedang berkembang. Galur sel ini kemudian berkembang menjadi sel-sel somatis khusus yang disebut oogonium (jamak = oogonia). Oogonium (diploid) memperbanyak diri dengan sangat cepat melalui pembelahan mitosis berkali-kali, dan akhirnya berdiferensiasi menjadi oosit primer, yang masih diploid juga. Oosit primer kemudian mengalami meiosis I tetapi tertahan pada tahap diplonema hingga saat matang kelamin. Selama kurun waktu ini oosit primer mengalami berbagai perubahan sehubungan dengan persiapan penyelesaian meiosis dan fertilisasi, serta mengumpulkan sejumlah besar bahan makanan untuk perkembangan awal embrio. Untuk melindungi diri dari kerusakan mekanis, oosit primer diselubungi oleh selaput yang dinamakan folikel Graaf. Di bawah selaput ini terdapat granula kortikal yang membatasi pembuahan hanya oleh satu spermatozoon. Oosit primer yang berhasil menyelesaikan meiosis I akan menghasilkan dua buah sel haploid, yang masing-masing mengandung satu anggota pasangan kromosom homolog dalam keadaan mengganda.

 4.      Kesimpulan
Dari pembahasan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
  1. Pembelahan mitosis dapat diamati dengan terlihatnya tahap profase, metafase, anafase dan telofase.
  2. Pembelahan meiosis dapat diamati dengan terlihatnya spermatogenesis pada Rana sp.
  3. Pembelahan mitosis menghasilkan dua sel anak, hal tersebut dibuktikan dengan hasil pengamatan pada tahap telofase dan pembelahan meiosis menghasilkan empat sel anak pada proses pembentukan sperma.


Daftar Pustaka

Alberts,B.dkk.2002.Glossary.95hlm.  http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/bv.fcgi?rid=mboc4.glossary.4754#5215,17 Februari 2009, pk 20.38 wib.
Alberts, B. dkk. 2002. An Overview of the Cell Cycle. 6 hlm. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/bv.fcgi?rid=mboc4.section.3169, 17 Februari 2009, pk 20.33 wib..
Benson H.J. dkk. 1996. Anatomy & Physiology Laboratory Textbook, 7th ed. McGraw-Hill companies, Inc. New York:viii+516 hlm.
Campbell, N.A., J.B. Reece, & L.G. Mitchell. 2002. Biologi. Terj dari Biology;oleh Lestari,R. dkk. Erlangga, Jakarta:xxi+438 hlm.
Cooper G.M. 2000.The Molecular Cell. 30 hlm. www.as.utexas.edu/biology/education/spring07/scalo/secure/CooperCh2Cell.pdf, 18 Februari 2009, pk 20.45 wib.
Farabee M.J. 2000. Cell Division: Meiosis And Sexual Reproduction. 15 hlm. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/bv.fcgi?highlight=mitotic%2Cmeiosis&rid=genomes%2Efiggrp%2E6244, 17 Februari 2009, pk 20.44 wib.
http://www.google.co.id/imglanding?q=spermatogenesis&hl=id&gbv=2&tbs=isch:1&tbnid=7jdbWtFmHtl70M:&imgrefurl=http://biologi.blogsome.com/2010/04/27/spermatogenesis/&imgurl=http://biologi.blogsome.com/wp-admin/images/Spermatogenesis.jpg&zoom=1&w=600&h=339&iact=hc&ei=5UetTKe4KYi4vQPSwtyEDw&oei=hketTMOYK6bKcKL1-fMM&esq=4&page=1&tbnh=108&tbnw=192&start=0&ndsp=19&ved=1t:429,r:1,s:0&biw=1280&bih=585, diakses tanggal 7 Oktober 2010, pk 12.16 wib
Joseph S.W. & Rollins D.M. Cell Structure. 10 hlm. http://molecular-biology.suite101.com/article.cfm/cell_structure, 18 Februari 2009, pk 20.25 wib.
Jurèák J. 1999. A Modification To The Acetocarmine Method Of Chromosome Colouring In The School Practice. 14 hlm.
Wildan Yatim. 1994. Reproduksi dan Embryologi Untuk Mahasiswa Biologi & Kedokteran. Bandung: Tarsito.
www.publib.upol.cz/~obd/fulltext/biolog37/biolog37-01.pdf, 16 Februari 2009, pk 24.50 wib.
Koning, R.E. 1994. Cell Cycle.19 hlm. http://plantphys.info/plant_physiology/cellcycle.shtml, 16 Februari 2009, pk 10.24 wib.
Stafferton J. 2007. Prokaryotic vs Eukaryotic. 12 hlm. http://www.life.umd.edu/classroom/bsci424/BSCI223WebSiteFiles/ProkaryoticvsEukaryotic.htm, 18 Februari 2009. pk 20.26 wib.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar